Selasa, 27 Desember 2011

ALAT OPTIK

1.        Mata
Mata adalah sala satu alat tubuh manusia yang berfungsi sebagai alat indra.Bentuk mata hampir menyerupai sebuah bola dan diameternya kira-kira 2,5 cm.
Bagian-bagian mata

Bagian depan mata mempunyai lengkungan yang lebih tajam, dan dilapisi oleh suatu selaput (membran) yang cukup kuat dan tembus cahaya. Selaput ini disebut kornea. Di belakang kornea terdapat cairan air (aqueous humor ). Daerah dibelakang kornea ini, membentuk suatu lensa yang berfungsi  membiaskan cahaya yang masuk ke dalam mata. Lebih dalam lagi kita dapatkan suatu lensa terbuat dari bahan yang bening, berserat dan kenyal, lensa ini disebut lensa kristalin dan berfungsi untuk mengatur pembiasan yang disebabkan oleh cairan air di depan lensa kristalin. Lensa kristalin ini dipegang oleh otot-otot mata. Pada bagian selaput ini memberikan warna mata, dan disebut selaput iris, sedangkan celah lingkaran yang dibentuk oleh iris disebut pupil. Lebar pupil diatur oleh selaput iris. Ditempat gelap pupil besar, agar lebih banyak cahaya masuk. Dibelakang lensa kristalin, mata terisi cairan bening atau vitreous humor dan aqueous humor. Sebagian besar dinding dalam bola mata tertutup dengan satu lapisan yang disebut retina.
 Retina merupakan suatu lapisan yang berisi ujung-ujung syaraf yang berasal dari urat syaraf optik. Didalam retina urat syaraf optik berakhir pada benda-benda berbentuk batang , atau pada benda-benda berbentuk kerucut. Kerucut-kerucut ini beserta cairan kebiru-biruan yang disebut redopsin menyerap cahaya yang masuk kedalam mata. Informasi tentang intensitas dan warna cahaya diterima oleh batang-batang dan kerucut  didalam retina, dan diteruskan ke otak melalui syaraf mata. Pada bagian tengah retina, ada satu lengkungan yang disebut bintik kuning (fovea centralis). Pada bagian ini tidak terdapat batang-batang, tetapi hanya ada kerucut – kerucut dan merupakan bagian yang paling peka terhadap retina.
Pada daerah dimana syaraf optik meninggalkan mata tidak ada batang ataupun kerucut, sehingga bayangan yang terbentuk didaerah ini tidak dapat dilaporkan ke otak, dan kita tidak dapat melihat benda yang terletak pada arah yang memberi bayangan pada tempat ini. Daerah ini disebut bintik buta.

Akomodasi mata
Kemampuan mata untuk mengubah – ubah fokus mata, disebut daya akomodasi. Adapun jenis akomodasi mata yaitu :

1.      Mata berakomodasi
Mata berakomodasi adalah lensa mata yang mengatur penyesuaian terhadap jarak benda, dengan jalan mengatur cembung dan pipihnya lensa, sehingga bayangan jatuh keretina. Apabila jarak benda sangat dekat, lensa akan cembung. Sebaliknya apabila lensa mata dalam keadaan secembung-cembungnya maka dikatakan mata berakomodasi maksimum. Titik paling dekat yang masih bisa dilihat punctum proximum (Pp) untuk mata yang normal memiliki lensa mata dalam keadaan sepipih-pipihnya dikatakan berakomodasi minimum atau tidak berakomodasi.
2.      Mata tak berakomodasi
Mata tak berakomodasi adalah kondisi mata ketika lensa mata agak datar atau kondisi otot-otot siliar dalam keadaan santai (relax). Sinar yang datang dari jauh tak terhingga. Dibentuk bayangan pada bintik kuning. Titik paling jauh yang masih bisa dapat jelas dilihat oleh mata tak berakomodasi disebut titik jauuh punctum remomtum (P.r) untk mata normal, titik jauh mata tersebut berada didepan mata dengan jarak tak terhingga. Atau jarak jauh mata normal = P.r = ∞.
Cacat mata
a.       Presbiopi
merupakan cacat mata yang lebih banyak disebabkan oleh faktor usia. Orang yang usianya sudah lanjut, daya akomodasinya semakin lemah sehingga lensa mata sukar mencembung secembung-cembungnya dan sukar memipih sepipih-pipihnya. Cacat mata presbiopi adalah cacat mata yang tidak dapat melihat benda-benda jauh atau dekat dengan jelas. Untuk menolong orang yang menderita cacat mata presbiopi, harus digunakan kacamatarangkap. Lensa kacamata rangkap terdiri atas lensa cekung untuk melihat benda-benda jauh dan lensa cembung untuk melihat benda yang dekat. Atau sering disebut lensa bikonkaf.
b.      Hipermetropi
Bola mata terlalu pendek atau biji mata tidak terlalu melengkung, dan bayangan dari sebuah benda yang jaraknya tak berhingga akan berada di belakang retina.

Hipermetropi, koreksi menggunakan lensa positif
Jarak fokus lensa dan kuat lensa yang digunakan untuk memperbaiki mata yang mengalami hipermetropi dapat ditentukan berdasarkan persamaan lensa tipis dan rumus kuat lensa.


Di sini jarak s adalah jarak titik dekat mata normal (25 cm), dan s’ adalah titik dekat mata (PP). Prinsip dasarnya adalah lensa positif digunakan untuk memindahkan (memundurkan) objek pada jarak baca normal menjadi bayangan di titik dekat mata tersebut sehingga mata dapat melihat objek dengan jelas.
c.       Miopi
Bola mata terlalu panjang dari depan kebelakang, dibandingkan dengan jari-jari kelengkungan biji mata (biji mata melengkung terlalu tajam) dan sinar dari sebuah benda di jarak ta berhingga difokuskan di depan retina.

Miopi dikoreksi menggunakan lensa negatif
Jarak fokus lensa dan kuat lensa yang digunakan untuk memperbaiki mata yang mengalami rabun jauh dapat ditentukan berdasarkan persamaan lensa tipis dan rumus kuat lensa.


Di sini jarak s adalah jarak tak hingga (titik jauh mata normal), dan s’ adalah titik jauh mata (PR). Prinsip dasarnya adalah lensa negatif digunakan untuk memindahkan (memajukan) objek pada jarak tak hingga agar menjadi bayangan di titik jauh mata tersebut sehingga mata dapat melihat objek dengan jelas.
d.      Astigmatisme
Astigmatis adalah ketidakteraturan lengkung-lengkung permukaan bias mata yang berakibat tidak terpusatkannya sinar cahaya pada satu titik di selaput jala (retina) mata. Ada dua jenis astigmatis, yaitu astigmatis kornea yang disebabkan oleh ketidakteraturan lengkung atau daya bias kornea dan astigmatis lensa akibat ketidakteraturan daya bias lensa mata. Astigmatis menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan melihat sesuatu secara jelas atau menjadi kabur, terutama untuk obyek-obyek yang berukuran kecil. Astigmatis yang umumnya diderita oleh penyandang miopia ini biasanya dapat dikoreksi dengan kacamata berlensa silindris atau lensa kontak. Dapat juga dilakukan operasi refraktif.




Searz dan zemansky. 2001. Fisika Universitas Jilid II. Jakarta : Erlangga
Soedojo, Peter. 1992. Azas-azas Fisika Jilid 3 optik. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Sutrisno. 1979. Fisika Dasar Gelombang dan Optik. Bandung : Institut Teknologi
Bandung


http///Alat Optik « Dunia Fisika.htm



Tidak ada komentar:

Posting Komentar